Alfiyyah adalah kitab nahwu yang sangat popular di kalangan pesantren. Kitab pedoman tata bahasa arab/nahwu ini juga terkenal di berbagai belahan dunia. Dalam versi bahasa Inggris, Alfiyyah disebut sebagai The Thousand Verses.
Dalam kurikulum pesantren, kitab Alfiyyah yang berisi kaidah-kaidah nahwu tersaji dalam 1002 bait ini merupakan salah satu hapalan terberat. Hapal bait-bait Alfiyyah juga menjadi salah satu syarat kenaikan kelas di berbagai pesantren. Targetnya tergantung kebijakan masing-masing pesantren. Ada yang harus hapal 500 bait, ada pula yang mengharuskan hapal seluruh nazam dalam kitab tersebut.
Alfiyyah adalah kitab nahwu karya Muhammad ibn Abdillah ibn Malik al-Thay. Lahir di Jayyan, tahun 600 H. Daerah ini adalah sebuah kota kecil di bawah kekuasaan Andalusia (Spanyol). Alfiyyah merupakan salah satu dari karyanya. Kitab ini adalah versi ringkas dari karyanya yang lain, al-Kafiyah asy-Syafiyah yang terdiri dari 2757 bait. Alfiyyah terdiri dari 80 bab, yang setiap babnya berisi beberapa bait. Yang terpendek berisi 2 bait saja yaitu bab al-Ikhtishahsh, dan yang terpanjang adalah Bab Jamak Taksir yang berisi 42 bait.
Di sela kerumitan dan kedalaman makna yang tersirat dalam setiap baitnya, yang merupakan isyarat atau rumusan kaidah bahasa Arab, bait-bait Alfiyyah juga memberi inspirasi dan penafsiran di luar kontek ilmu nahwu. Pemaknaan itu mirip tafsir isyari pada Alquran. Banyak bait-bait dalam Alfiyyah yang ditafsirkan berbeda sehingga menghasilkan kata hikmah yang indah. Berikut ini lima diantaranya.
1. Keharmonisan Rumah Tangga
Bait ke 25 dan ke 26 berbunyi:
“Rafa’kanlah dengan dlammah, nashabkan dengan fathah, jerkanlah dengan kasrah seperti dalam lafadz ذِكْرُاللهِ عَبْدَهُ يَسُرْ) ). Jazmkanlah dengan sukun, dan selain yang telah disebutkan ada penggantinya seperti lafadl جَا أَخُو نَمِر”
Bait yang menjelaskan tanda I’rab (perubahan tanda baca tiap akhir kata) ini dimaknai sebagai poin-poin penting dalam membentuk keluarga yang harmonis. Suami dan istri haruslah kompak (dhomm: makna aslinya kumpul), saling terbuka (fath: terbuka), membuang hal yang menimbulkan perpecahan, (Jurro Kasran: seretlah perpecahan), selalu berdoa kepada Allah Swt, dan meneguhkan pendirian dalam istiqamah.
2. Teguh Pendirian Dalam Berbagai Keadaan
لِلرَّفْعِ وَالنَّصْبِ وَجَرِّ نَا صَلَحْ # كَاعْرِفْ بِنَا فَإِنَّنَا نِلْنَا اْلمِنَحْ
“Dlomir naa, baik untuk dhamir rafa’ Nashab, jar tetap memakai lafadz Naa, seperti ungkapan, اعْرِفْ بِنَا فَإِنَّنَا نِلْنَا اْلمِنَاح (ketahuilah, sesungguhnya kita telah memperoleh anugerah yang banyak)”
Bait ini adalah penjelasan bahwa نا (bentuk muttashil dari نحن) digunakan sebagai dhamir muttashil rafa’, nashab, jer, dengan tetap menggunakan redaksi kata naa. Tanpa perubahan. Lain halnya dengan dhamir orang pertama misalnya, untuk muttashil rafa’nya berupa تُ sedang dalam nashab dan jarnya menggunakan ي.
Makna hikmahnya, jadilah seperti dhamir muttashil Naa yang teguh pendirian dan pemahaman meski dalam keadaan apapun. Tidak terpengaruh oleh perubahan kondisi dan keadaan, baik susah maupun senang.
3. Berusaha Semaksimal Mungkin
وَفِي اخْتِيَارِ لَايَجِئُ اٌلمُنْفَصِلْ # إِذَا تَأَتَّى اَنْ يَجِئُ اْلمُتَّصِلْ
Dalam keadaan ikhtiyar (tidak kepepet) tidak boleh mendatangkan dlomir munfasil, selagi masih memungkinkan memakai dlomir muttashil
Dhamir munfashil merupakan dhamir yang bisa berada di awal kalimat dan bisa terletak setelah illa. Sedangkan dhamir muttashil selalu berada menyatu dengan kata yang memuatnya. Bait ini dijadikan kalam hikmah, janganlah meminta batuan orang lain selagi masih bisa dilakukan sendiri.
Dikisahkan, salah seorang ulama ditanya manakah yang lebih utama antara makan dengan memakai tangan langsung dan memakai sendok. Ia menjawab, utama pakai tangan langsung. Dalilnya bait Alfiyyah diatas.
4. Pilihlah Pemimpin Yang Mumpuni
وَلَا يَجُوْزُ اْلإِبْتِدَا بِالنَّكِرَةِ # مَالَمْ تُفِدْ كَعِنْدَ زَيْدِ نَمِرَةِ
“Tidak diperbolehkan membuat mubtada’ dengan memakai isim yang nakiroh, selagi tidak memberi faedah, seperti pada lafad عِنْدَ زَيْدِ نَمِرَ”
Ketentuan dasar pembentukan mubtada’ haruslah berupa isim makrifat, bukan nakirah. Ibarat mubtada’, pemimpin haruslah orang yang berpengetahuan luas dan makrifat dibidangnya. Bisa juga berarti, memilih pemimpin haruslah orang yang telah diketahui (ma’ruf) rekam jejaknya dalam memperjuangkan kepentingan rakyat.
5. Cita-Cita Bisa Terhalang Cinta
فَأَلِّفُ التَّأْنِيْثِ مُطْلَقَا مَنَعْ # صَرْفَ اَّلذِيْ حَوَاهُ كَيْفَمَا وَقَعْ
“Alif ta’nits muthlaq dapat mencegah tanwin dari isim yang mengandunginya, bagaimanapun keadaan isim itu”
Kecintaan (al-ulfu, kata lain dengan tetap menggunakan hamzah, lam dan fa’) kepada wanita bisa menjadi salah satu penghalang seseorang menggapai kesuksesan. Hal ini sering terjadi khususnya para santri yang akhirnya harus “pensiun” awal dari mondoknya karena terjerat cinta. Dalam kehidupan non santri pun, terkadang cinta justru mengalihkan kita dari tujuan pencapaian yang semula telah ditetapkan.
Itulah lima contoh diantara sekian makna isyari dari bait-bait Alfiyyah. Pemaknaan isyari seperti diatas kadang menambah semangat para santri untuk mempelajari kitab Alfiyyah. Ada semacam kepuasan tersendiri bila menemukan makna lain dari bait-bait hapalan itu.